Mengenal Lebih Dekat Prabowo Subianto Djojohadikusumo Presiden RI – 08

Tidak ada tokoh Indonesia paling dimusuhi kelompok tionghoa selain Prabowo Subianto. Antipati masyarakat Tionghoa terhadap Prabowo bukan disebabkan perbuatan mantan menantu Presiden Suharto itu terhadap warga tionghoa, sama sekali bukan. Prabowo tidak pernah berbuat tercela kepada warga tionghoa baik secara pribadi mau pun perbuatan dan tindakannya selaku perwira TNI atau politisi. Kebencian komunitas tionghoa kepada Prabowo semata-mata disebabkan oleh pembentukan opini publik yang negatif mengenai Prabowo dan dilakukan secara masif dan intensif serta ditujukan khusus kepada seluruh komunitas tionghoa selama bertahun-tahun sejak 1988, yaitu opini publik yang menyebut Prabowo sebagai tokoh anti tionghoa.

Fitnah keji melalui pembentukan opini publik secara intens dan masif terhadap diri Prabowo berawal dari ucapan Prabowo yang menanggapi kekecewaan besar Pak Harto atas penolakan para konglomerat tionghoa yang diminta Pak Harto untuk menyisihkan sebagian kecil bagian dari laba usaha mereka, yakni 1-2.5% dari laba bersih untuk dihimpun dan dikelola oleh konglomerat itu sendiri atau melalui Yayasan Prasetya Mulia (paguyuban para konglomerat tionghoa) guna membantu permodalan pengusaha mikro, kecil, menengah dan koperasi (UKMK) pribumi.

Penolakan para konglomerat tionghoa atas permohonan Presiden Suharto untuk menyisihkan 1-2.5% dari laba bersih untuk membantu masalah permodalan UKMK Pribumi yang disampaikan pada tahun 1986 di Tapos, Jawa Barat, disampaikan Sofyan Wanandi selaku juru bicara Konglomerat Tionghoa/Prasetya Mulya secara terbuka. Konglomerat tionghoa berdalih selama menjalankan bisnis/usaha, mereka sudah dibebani banyak pungutan, suap atau upeti untuk berbagai pihak, sehingga tidak mungkin lagi dibebani dengan kewajiban menyisihkan 1-2.5% dari laba bersih untuk membantu permodalan UMKM Pribumi. Pada saat itu Pak Harto tidak mengungkapkan kekecewaannya atas penolakan konglomerat tionghoa, hanya raut wajah Pak Harto yang menggambarkan penyesalan mendalam.

Penolakan para konglomerat tionghoa terhadap permohonan Pak Harto menimbulkan reaksi dari orang-orang di sekeliling Pak Harto yang menilai penolakan itu sebagai pengkhianatan. Komunitas pengusaha tionghoa sudah dilindungi, dibina, diberi hak khusus dan istimewa, diberi semua kemudahaan selama 20 tahun oleh Pak Harto dan Pemerintah Orde Baru, namun ketika diminta turut serta membantu UMKM Pribumi, semua konglomerat tionghoa menolak. Tidak hanya sekedar menolak, namun lebih dari itu media-media milik konglomerat tionghoa gencar mengecam Pak Harto terkait permintaan bantuan kepada konglomerat tionghoa. Pasca pertemuan Tapos itu, hampir setiap hari media milik para konglomerat tionghoa memuat kritik dan kecaman terhadap Pak Harto, terutama terkait maraknya pungli dan ekonomi biaya tinggi yang membebani dunia usaha (tionghoa).

Sikap konglomerat tionghoa yang dianggap etis, tidak tahu balas budi dan khianat itulah kemudian mendorong munculnya komentar Prabowo Subianto, yang kemudian beredar luas khususnya di kalangan masyarakat tionghoa:

 

1. Mengenai Pernyataan Prabowo

Indonesia rela mundur 50 tahun, asal para WNI etnis Cina busuk diusir semua dari RI !”

 

 

 

  • Tidak jelas apakah Prabowo benar pernah membuat pernyataan seperti itu.
  • Jika benar Prabowo ada mengatakan hal itu, tidak jelas materi redaksi pernyataan Prabowo yang sebenarnya.
  • Disebutkan bahwa Prabowo mengatakan seperti itu sumbernya adalah pengakuan Sofyan Wanandi yang disebarluaskan kepada kalangan tionghoa. Namun Sofyan tidak bisa membuktikan kebenaran pengakuannya: kapan, di mana dan dalam kontek apa Prabowo mengucapkan hal itu.
  • Prabowo sendiri membantah pernah mengucapkan pernyataan seperti itu.

 

2. Mengenai Tuduhan Terhadap Prabowo sebagai Dalang Penembakan Trisakti dan Kerusuhan 98

Tuduhan terhadap Prabowo sebagai Dalang Penembakan Trisakti dan Kerusuhan 98 beredar di kalangan masyarakat tionghoa. Meski tuduhan itu sudah terbukti tidak benar namun stigma negatif masih melekat di benak Tionghoa.

Fakta bahwa Dalang Penembakan Trisakti dan Kerusuhan 98 termasuk pembuat dan penyebar fitnah Pemerkosaan Massal Perempu an Tionghoa 13-14 Mei 1998 adalah kubu Jenderal Merah (LB Murdani dan para jenderal kader binaan Murdani dan Ali Murtopo) yang berkolaborasi dengan CSIS, tidak pernah disosialisasikan ke seluruh rakyat Indonesia khususnya warga tionghoa. Sehingga sampai hari ini, persepsi negatif yang keliru terhadap Prabowo masih hidup dan berkembang di benak kalangan tionghoa. Hanya sebagian kecil tionghoa sudah menyadari bahwa Prabowo sesungguhnya adalah korban fitnah dari musuh-musuhnya dan musuh Pak Harto.

 

3. Mengenai Pemecatan Prabowo dari Dinas TNI

Pemecatan Prabowo Subianto dari Dinas Keprajuritan TNI yang didasarkan atas rekomendasi Keputusan Dewan Kehormatan Perwira (DKP) TNI No. 03/VIII/1998/DKP tanggal 21 Agustus 1998, yang kemudian terbukti CACAT HUKUM.

 

Bukti Cacat Hukum pada Keputusan DKP adalah sebagai berikut:

Bahwa Keputusan DKP jelas menyebutkan bahwa Surat Tugas Kasad yang menjadi dasar tindakan Prabowo adalah tidak sesesuai kewenangan Kasad selaku Pembina

Bahwa DKP tidak melakukan pemeriksaan terhadap Kasad selaku pemberi Surat Tugas

Bahwa DKP tidak memberi rekomendasi sanksi kepada Kasad selaku pemberi Surat Tugas

Bahwa tindakan Prabowo semata-mata menjalankan perintah KASAD selaku atasan dan pemberi Surat Tugas.

Bahwa jika Prabowo tidak melaksanakan perintah atasan dan Surat Tugas KASAD, maka Prabowo dapat dinyatakan bersalah karena melakukan pembangkangan terhadap atasan.

Bahwa Keputusan DKP didasarkan juga kepada hal lain yang semua dianggap sebagai pelanggaran padahal sebelumnya, tindakan Prabowo itu sudah mendapat pengakuan dan penghargaan sebagai prestasi luar biasa.

Dan seterusnya.

Ketiga hal tersebut di atas adalah fitnah dari musuh politik Prabowo namun menjadi beban politik dan moral Prabowo sebagai korban fitnah keji. Keengganan Prabowo menyampaikan kebenaran kepada publik terutama kepada komunitas warga tionghoa mengenai fakta yang sebenarnya menyebabkan persepsi keliru itu terus tertanam dalam benak mereka, yang mana persepsi keliru ini melahirkan sikap antipati warga tionghoa terhadap Prabowo Subianto.

Selain tiga hal tersebut di atas, sikap dan karakter Prabowo yang patriot nasionalis menempatkan dirinya menjadi tokoh yang tidak disukai asing untuk menjadi presiden Indonesia. Pihak asing gencar melakukan pembusukan dan pembunuhan karakter terhadap Prabowo untuk menggagalkannya menjadi presiden.

Mengutip Bung Karno:

Jika pihak asing memuji-muji pemimpinmu, artinya pemimpin itu lemah, buruk dan menguntungkan pihak asing. Sebaliknya, jika pihak asing membenci pemimpinmu, artinya pemimpin itu kuat, baik dan mampu menempatkan kepentingan rakyat, bangsa dan negara di atas kepentingan asing …”

Gus Dur:

Tidak ada tokoh pemimpin Indonesia yang lebih tulus dan ikhlas daripada Prabowo Subianto …”

Demikian sekelumit mengenai sosok Prabowo Subianto yang insya Allah jika pilpres 2019 berlangsung jujur dan adil, beliau akan terpilih menjadi Presiden RI – 08 untuk masa jabatan 2019-2024.

Insya Allah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, Negara Indonesia tercinta yang terpuruk di segala bidang di bawah Presiden Jokowi akan dapat bangkit, pulih kembali dan menjadi Macan Asia. Aamiin.

 

Biografi Singkat

Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Prabowo Subianto Djojohadikusumo (lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951; umur 67 tahun) adalah seorang tokoh militer dan politik Indonesia.

Pernah menjabat sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus dengan pangkat Mayor Jenderal, dari bulan Desember 1995 hingga Maret 1998, dan kemudian dipromosikan menjadi Panglima Kostrad dengan pangkat Letnan Jenderal. Namun, baru dua bulan menjabat, ia diberhentikan pada bulan Mei 1998 oleh Presiden B.J. Habibie akibat fitnah musuh-musuh politiknya yang disampaikan kepada Presiden Habibie.

Setelah tak aktif lagi dalam dinas militer, ia menjadi pengusaha, dan kemudian mulai aktif dalam politik dengan mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya. Ia mencalonkan diri sebagai wakil presiden pada pemilihan umum presiden Indonesia 2009 mendampingi Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, tetapi hanya berhasil meraih sekitar 26,79% dari suara nasional, dan gagal terpilih. Pada pemilihan umum presiden Indonesia 2014, ia maju sebagai calon presiden bersama calon wakil presiden Hatta Rajasa.

Prabowo gagal jadi Presiden RI pada pilpres 2014 bukan karena rakyat lebih memilih Jokowi, melainkan karena pencurangan pilpres dan penjegalan dengan berbagai cara yang dilakukan musuh politiknya termasuk bantuan besar Presiden SBY kepada Jokowi untuk memastikan Jokowi sebagai pemenang pilpres 2014.

Iklan