Badan Intelijen AS Buka Rahasia Gorbachev

image

 

Sebuah arsip dokumen rahasia yang sebelumnya bersifat rahasia dari pemerintah Inggris dan Amerika yang mengandung penilaian Barat terhadap Gorbachev mulai sebelum ia menjabat pada Maret 1985, dan terus berlanjut sampai akhir Uni Soviet pada tahun 1991 diungkap ke publik oleh badan intelijen Amerika NSA (National Security Agency).

Dokumen-dokumen itu menunjukkan bahwa politisi Inggris memprediksi secara konservatif terhadap ‘rising star’ Soviet MikhailGorbachev pada tahun 1984 dan 1985, tetapi CIA berbeda dengan Inggris di mana CIA memperoleh informasi yang menggambarkan pemimpin Soviet yang baru tiga bulan menjabat itu sebagai “sapu baru,”. Dan Ronald Reagan menyambut gembira pengangkatan Gorbachev sebagai pemimpin baru Uni Soviet dengan mengundangnya langsung untuk menghadiri KTT (konferensi tingkat tinggi) USA – USSR.

Dokumen yang diungkap ke publik baru-baru ini meliputi penilaian awal yang positif oleh Margaret Thatcher dan MP John Browne, laporan intelijen CIA selama masa pemerintahan Gorbachev 1985-1991, kesepakatan-kesepakatan awal Reagan dan Gorbachev, versi Amerika mengenai percakapan penting Reagen dengan Gorbachev di Geneva, Reykjavik dan Malta KTT, kepercayaan kanselir Jerman Helmut Kohl kepada Gorbachev pada tahun 1989, jatuhnya Tembok Berlin dan berakhirnya Perang Dingin, serta transkrip pembahasan KTT G-7 pada tahun 1990 di mana AS menolak permintaan bantuan Gorbachev mengenai bantuan keuangan untuk Uni Soviet.

Arsip rahasia itu mengumpulkan dokumentasi tentang Gorbachev dalam dua buku, yang meraih penghargaan “Masterpieces of History” berjudul “Akhir Perang Dingin di Eropa 1989” (Central European University Press, 2010), dan “Adidaya Terakhir Akan Datang Dari Pertemuan Gorbachev, Reagan dan Bush” (CEU Press, 2016).
Buku mengenai “Pengarahaan Gorbachev” dari mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher menjelaskan “penemuan” Thatcher pada sosok Gorbachev pada Desember 1984 selama perjalanannya ke Inggris sebagai kepala delegasi parlemen Soviet.

Berbeda dengan pendahulunya yang tua dan lemah, yang selalu membaca perlahan-lahan setiap catatan yang sudah disiapkan stafnya, Gorbachev langsung terjun dalam diskusi bebas dan terbuka. Ini meninggalkan kesan yang tak terhapuskan pada Lady Thatcher.

Perdana Menteri Thatcher terpesona oleh Gorbachev sebagai pemimpin baru Soviet. Ia segera menyampaikam kesan-kesannya mengenai Gorbachev dengan sekutu terdekat yakni Ronald Reagan. Thatcher mengatakan, “Saya suka Gorbachev. Kita bisa melakukan bisnis bersamanya”

Segera setelah Gorbachev menjadi Sekretaris Jenderal Soviet, anggota Konservatif dari parlemen Inggris, John Browne, yang mengamati Gorbachev selama kunjungannya ke Inggris dan kemudian diikuti informasi pada setiap langkah awal Gorbachev.

Browne menyebut Gorbachev sebagai “Kennedy di Kremlin” dalam hal karismanya. Pada bulan Juni 1985, CIA mengatakan kepada para pejabat senior AS mengenai penilaian rahasia tentang Gorbachev yang disebut CIA sebagai “sapu baru” yang berusaha untuk membersihkan puing-puing yang terakumulasi bertahun-tahun di Uni Soviet selama era stagnasi.

Tapi Reagan belum percaya sepenuhnya dan bersikeras harus melihat sendiri karakter Gorbachev. Selama empat tahun sebelum Gorbachev menjabat sekjen Partai Komunis Soviet, Reagen sebagai presiden Amerika mengeluh dalam buku hariannya, bahwa ia telah berusaha untuk bertemu muka dengan pemimpin wajah Soviet, tetapi “mereka tetap mati rasa pada saya.”

Dalam surat pertamanya kepada Gorbachev, yang dititipkan kepada Wakil Presiden George H.W. Bush dibawa ke Moskow untuk diserahkan kepada Gorbachev setelah acara pemakaman pendahulu Gorbachev selesai, Reagan mengundang Gorbachev untuk bertemu.

Gorbachev dan Reagan menjadi sahabat pena yang kerap menulis surat panjang – kadang-kadang secara pribadi, bahkan dengan tulisan tangan. Surat-surat Reagen dan Gorbachev tersebut menjelaskan posisi mereka pada kontrol senjata, pertahanan strategis, dan kebutuhan untuk penghapusan nuklir.

Pertemuan pertama mereka (Reagen dan Gorbachev) berlangsung di Jenewa, Swiss pada bulan November 1985, di mana dalam suasana informal “diskusi di depan perapian”, mereka mulai saling menyadari bahwa mereka berdua bukan penghasut perang tetapi adalah manusia dengan mimpi yang sama untuk membebaskan dunia dari senjata nuklir.

Mimpi itu kelihatannya bakal terwujud dengan sangat cepat melalui terobosan selama KTT Gorbachev dan Reagan di Reykjavik. Namun, desakan keras kepala dari Reagan kepada Gorbachev dibalas keengganan keras kepala oleh Gorbachev. Sukses besar di depan mata buyar seketika.

Melalui serangkaian KTT USA – USSR yang belum pernah terjadi sebelumnya, Gorbachev berhasil membuat Reagan dan Bush dapat memahami bahwa pemimpin Soviet itu serius tentang rencana mengubah negaranya agar tidak menjadi ancaman dunia, dan rencananya membantu warga negara sendiri dapat menjalani hidup lebih baik dan lebih bahagia, dan membawa Soviet sepenuhnya terintegrasi ke dalam “keluarga bangsa-bangsa.

“Gorbachev juga belajar dari rekan-rekan sesama pemimpin dunia, ia mendirikan semacam kelompok sebaya dengan Prancis Mitterrand, Kanselir Jerman Kohl, PM Inggris Thatcher, dan PM Spanyol Gonzalez, yang mengembangkan posisinya sebagai reformis.

Pada saat George H.W. Bush sebagai presiden AS akhirnya bertemu Gorbachev di KTT Malta, Uni Soviet sudah menyelenggarakan pemilihan umum yang bebas, penerapan kebebasan berbicara. Revolusi Beludru telah membawa pemimpin-pemimpin reformis berkuasa di Eropa Timur, dan jatuhnya Tembok Berlin.

Kanselir Jerman Helmut Kohl menulis dalam suratnya kepada Bush pada akhir November 1989: “Mengenai proses reformasi di Polandia, Hongaria, Bulgaria, yang CSSR [Cekoslowakia], dan tidak sedikit GDR [Jerman Timur], kita memiliki Sekretaris Jenderal Gorbachev yang karena kebijakannya kita wajib berterima kasih. Perestroika telah diterapkan, membuat lebih mudah, atau mempercepat reformasi ini. Dia mendorong pemerintah mau melakukan reformasi ke arah keterbukaan dan menuju penerimaan keinginan rakyat; dan ia menerima perkembangan yang dalam beberapa hal jauh melampaui standar Uni Soviet sendiri”.

Pada tahun 1989, mimpi Gorbachev yang disebut “Rumah Bersama Eropa” mengemuka dan menjadikan Gorbachev sebagai politisi paling populer di dunia. Ketika ia menghadapi ketidakpuasan dan oposisi di negaranya, ia menolak untuk menggunakan kekuatan, seperti rekan komunisnya China yang melakukan pembantaian massa di Lapangan Tiananmen.

Namun, Barat yang secara konsisten menerapkan standar lebih keras terhadap Gorbachev Uni Soviet daripada terhadap China, mengakibatkan kaki terhambatnya bantuan keuangan, kredit, dan perdagangan untuk Soviet.

Sebagaimana Francois Mitterrand tunjukan selama KTT G-7 di Houston pada tahun 1990: “argumen dikemukakan untuk membantu China hanya kebalikan ketika kita berhadapan dengan Uni Soviet. Kami terlalu takut […] tentang bantuan ke Uni Soviet. […]. ”

Gorbachev sejak Maret 1985 telah membuat negaranya dan dunia menjadi lebih baik. Ia bekerjasama dengan Reagan dan Bush, ia mengakhiri Perang Dingin, menarik pasukan Soviet dari Afghanistan, membantu menyelesaikan konflik-konflik di seluruh dunia, dan memberi Rusia harapan dan kesempatan untuk berkembang sebagai negara demokrasi.

Seperti halnya banyak reformis besar, dia tidak mencapai semua yang ia perjuangkan – ia pasti tidak pernah berniat untuk Uni Soviet runtuh – tapi glasnost, non-kekerasan, dan “pemikiran baru” nya untuk dunia yang harmonis telah menciptakan legacy yang hanya bisa dihasilkan segelintir negarawan di dunia ini.

Selamat ulang tahun, Mikhail Sergeyevich Gorbachev !

 

Iklan

Penulis: Kotak Pandora

Kebenaran menemukan jalan sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s