Jokowi-Ahok dan Konstelasi Politik Indonesia

 

Kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014 memberi pelajaran berharga kepada seluruh politisi dan rakyat Indonesia. Betapa tidak, Jokowi sebagai tokoh baru dikenal di pentas politik nasional secara mengejutkan mampu memenangkan pilpres mengalahkan Prabowo Subianto yang telah puluhan tahun malang melintang di dunia politik dan telah tiga kali mengikuti pilpres.

Terpilihnya Jokowi pada Pilpres 2014 didahului kemenangannya pada Pilkada Jakarta 2012 membawa perubahan besar pada peta kekuatan politik Indonesia. Banyak pengamat, peneliti dan pakar politik Indonesia mencar tahu faktor-faktor kemenangan Jokowi yang sangat fenomenal itu.

Sebelum Pilkada Jakarta 2012 memang sudah beredar informasi cukup lengkap seputar pihak atau kelompok kekuatan pendukung Jokowi. Namun informasi yang berkembang di dunia maya khususnya twitter dan fesbuk itu tidak menjadi perhatian masyarakat luas. Penyebabnya adalah keterbatasan jangkauan publik terhadap informasi dari media sosial. Di samping itu, mayoritas rakyat Indonesia masih menempatkan media arus utama (mainstream) sebagai preferensi sumber pengetahuan dan pemahamannya terhadap perkembangan dan dinamika politik nasional. Kecenderungan mayoritas media massa nasional memuji, menyanjung bahkan membentuk opini publik mendukung Jokowi, menyeret rakyat pemilih untuk memilih Jokowi baik pada Pilkada Jakarta 2012 mau pun pada Pilpres 2014 lalu.

Sangat sedikit dari pemilih bersikap kritis dan skeptis atau mempertanyakan kecenderungan mayoritas media nasional mendukung Jokowi. Hampir tidak ada yang mau memperhatikan atau pun meneliti kekuatan besar tersembunyi di balik arus besar media mengangkat popularitas Jokowi sedemikian rupa sehingga memungkin Jokowi yang semula ‘no body’ menjadi ‘some body’.
Kekuatan di Balik Fenomena Jokowi

Penelitian untuk mengetahui pihak atau kekuatan politik mana menjadi pendukung Jokowi dapat ditelusuri dari kepemilikan media yang secara terus menerus, sejak awal 2011 sampai hari ini konsisten mengangkat dan menjaga popularitas Jokowi. Dari penelitian selama tiga bulan dengan mempelajari pemberitaan semua media besar nasional kurun waktu 2011-2015, diperoleh hasil sebagai berikut:
– Media pengusung dan penopang utama popularitas Jokowi adalah kelompok First Media Grup, Media Grup, Grafiti Press Grup (Tempo), Gramedia Grup (Kompas), dan Salim Grup (Detik) dan SCTV. Semua media di bawah kendali grup media ini digerakan secara penuh, masif, terencana dan terkoordinir untuk membentuk opini publik dan mengarahkan persepsi publik Indonesia untuk menyetujui bahwa Jokowi adalah figur terbaik dan layak dipilih sebagai Gubernur DKI Jakarta dan selanjutnya sebagai Presiden RI.

– Media lain yang terlibat secara berkala dan digunakan mendukung Jokowi pada saat-saat tertentu adalah Jawa Pos Grup, MNC Grup, Vivanews Grup dan hampir semua media daerah di seluruh Indonesia.

Berdasarkan data tersebut diketahui lebih 90% media nasional dan daerah mendukung pencitraan Jokowi, membantu pembentukan opini positip tentang Jokowi dan mengarahkan pilihan rakyat untuk memilih Jokowi.

Hasil wawancara awal dengan para pemilik dan eksekutif media-media pro Jokowi, jawaban yang diperoleh hampir sama. Semua mengatakan mendukung Jokowi semata-mata karena kesukaan pada figur Jokowi semata. Mengenai harga atau pembayaran jasa media yang menayangkan pemberitaan, liputan dan iklan pencitraan Jokowi, hampir semua media sepakat tutup mulut dengan dalih harga yang disepakati media dan timses Jokowi tidak menjadi faktor utama.

Penggalian lebih dalam untuk mendapat informasi mengenai jumlah uang yang dihabiskan timses Jokowi selama 2011-2015, mulai mendapatkan hasil signifikan. Seorang mantan timses Jokowi pada Pilkada DKI 2012 lalu menyebutkan bahwa Edward Suryajaya (konglomerat Astra Grup) menghabiskan lebih Rp50 miliar hanya untuk mendukung kemenangan Jokowi-Ahok. Berikutnya informasi muncul dari konglomerat Hamid Djojomegoro besan James Riady yang mengaku pernah menyumbang kampanye Jokowi-Ahok sebesar Rp4.5 miliar. Di media Hashim Djojohadikusumo adik Prabowo mengaku mennghabiskan uang lebih Rp30 miliar hanya untuk mendukung Jokowi-Ahok menang Pilkada Jakarta.

Informasi lebih lanjut memberikan gambaran lebih lengkap. Pada Pilkada Jakarta 2012 lebih 100 konglomerat Jakarta, Sumatera Selatan dan Jawa Tengah memberi dukungan finansial kepada Jokowi-Ahok. Dukungan ini belum termasuk dukungan langsung baik uang atau liputan, iklan, tayangan gratis dari grup media yang mereka miliki. Secara kasar dapat dikalkulasikan kontribusi finansial dari konglomerat pendukung Jokowi-Ahok pada Pilkada Jakarta 2012 saja lebih dari Rp400 miliar. Belum termasuk bantuan uang dan dukungan yang diberikan secara langsung kepada para pemilih yang dilakukan pada pengusaha dan konglomerat pendukung Jokowi-Ahok. Dukungan ril dalam bentuk pengarahan kepada seluruh karyawan perusahaan milik pengusaha/konglomerat di Jakarta agar memilih Jokowi-Ahok dengan iming-iming bonus atau kenaikan gaji merupakan salah satu bentuk dukungan sangat efektif terhadap kemenangan Jokowi-Ahok pada Pilkada Jakarta 2012 lalu.
Kekuatan di Balik Dukungan Solid Tionghoa

Dukungan politik dan finansial lebih seratus konglomerat Tionghoa Jakarta, Jawa Tengah, Sumatera Selatan dan ribuan pengusaha Tionghoa Jakarta untuk memenangkan Jokowi-Ahok pada Pilkada Jakarta 2012 lalu tidak begitu saja terjadi. Melainkan merupakan hasil dari sebuah perencanaan, persiapan dan pelaksanaan rencana yang disusun sejak 2007 dan direalisasikan pelaksanaannya secara bertahap hingga Pilpres 2014 bahkan sampai hari ini. Mengantar Jokowi-Ahok ke kursi Gubernur dan Wakil Gubernur adalah pelaksanaan rencana tahap I. Memastikan Jokowi menjadi Presiden RI dan Ahok menjaid Gubenur Jakarta adalah Tahap II, memastikan Ahok terpilih kembali menjadi Gubernur Jakarta pada Pilkada Jakarta adalah tahap III, memastikan Jokowi-Ahok duet sebagai capres dan cawapres pada Pilpres 2019 adalah Tahap IV dan mendukung total guna menjamin kemenangan Ahok sebagai Presiden pada Pilpres 2024 adalah Tahap V. Inilah Grand Scenario yang disusun dan dijalankan oleh para pendukung Jokowi-Ahok.

Siapakah mereka para pendukung Jokowi-Ahok ini?

Bersambung.

 

(Suhardjito)

 

Iklan

Penulis: Kotak Pandora

Kebenaran menemukan jalan sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s